Bantul – Momentum Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan Ketua Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) , Dr. Hardi Santosa, M.Pd., untuk mengajak masyarakat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan generasi yang bertakwa dan berkarakter. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Idul Adha di Lapangan Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). Tema khutbah yang diangkat adalah “Semangat Idul Adha sebagai Inspirasi Menumbuhkan Keluarga yang Bertakwa.”
Teladan Keluarga Nabi Ibrahim AS
Dalam khutbahnya, Dr. Hardi Santosa mengangkat kisah keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai teladan. Kisah tersebut menunjukkan nilai ketaatan, pengorbanan, komunikasi, dan pendidikan iman dalam keluarga. Ia menjelaskan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Namun lebih dari itu, Idul Adha juga menjadi momen refleksi untuk membangun keluarga yang kokoh secara spiritual. “Keteladanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar menunjukkan bahwa keluarga kuat lahir dari ketundukan kepada Allah, komunikasi yang penuh kasih, serta pengorbanan untuk kebaikan yang lebih besar,” ujarnya.
Tantangan Keluarga di Era Modern
Selain itu, Hardi menyoroti tantangan keluarga modern yang semakin kompleks. Kesebukan dan perkembangan teknologi membuat interaksi keluarga semakin berkurang. Ia mengingatkan bahwa banyak keluarga tinggal di satu rumah, tetapi kurang memiliki kedekatan emosional. “Jangan sampai rumah hanya menjadi tempat berkumpul secara fisik. Suami sibuk bekerja, istri sibuk dengan aktivitas, dan anak sibuk dengan gawainya. Akibatnya, komunikasi hangat semakin berkurang,” ungkapnya.
Makna Kurban dan Keikhlasa
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kurban adalah simbol keikhlasan dan kemurnian tauhid. Oleh karena itu, ibadah tidak boleh terjebak pada pencitraan di media sosial. “Qurban bukan tentang siapa yang paling besar hewannya, tapi tentang keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah,” katanya. Dengan demikian, nilai utama Idul Adha adalah penguatan niat dan keikhlasan dalam beribadah.
Keteladanan Uwais Al Qarni
Dalam khutbahnya, Hardi juga menyinggung kisah Uwais Al Qarni sebagai contoh bakti kepada orang tua. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya hubungan anak dan orang tua. Ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi. Namun, juga dari mana ia berbakti kepada orang tua. “Banyak orang baru yang menyesal setelah orang tua tiada. Karena itu, masih ada waktu, mari kita muliakan mereka,” tuturnya.
Penguatan Ketahanan Keluarga
Sebagai ilmuwan Bimbingan dan Konseling, Hardi menilai bahwa ketahanan keluarga menjadi kebutuhan yang mendesak saat ini. Hal ini penting karena berbagai persoalan sosial dan psikologis terus meningkat. Ia menekankan bahwa keluarga bertakwa tidak hanya dibangun oleh materi. Tetapi juga karena kasih sayang, keteladanan, dan pembiasaan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Semangat Idul Adha untuk Kehidupan Lebih Bermakna
Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Adha sebagai titik balik perbaikan diri. “Semangat Idul Adha mengajarkan bahwa ketakwaan bukan sekedar ritual ibadah, tetapi juga menjaga keluarga, mendidik anak, menghormati orang tua, dan membangun kehidupan yang penuh keberkahan,” tutupnya.
MBK UAD Goes to Berau Hadirkan Workshop Inspiratif bagi Guru dan Konselor
/in Berita Utama /by bolirayaBerau – Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali memperluas jejaring akademik melalui kegiatan MBK UAD Goes to Berau yang diselenggarakan pada 20 Mei 2026 di SMAN 1 Berau. Kegiatan ini bekerja sama dengan ABKIN PC Berau sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan kompetensi guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta konselor di Kabupaten Berau.
Mengusung tema “Empowering Counselors, Inspiring Peaceful Education”, kegiatan ini menghadirkan Dr. Wahyu Nanda Eka Saputra, M.Pd., Kons. sebagai narasumber utama. Melalui workshop inspiratif bertajuk “Peaceful Mind, Meaningful Teaching: Guru Melangkah dengan Pikiran yang Damai”, peserta diajak memahami pentingnya membangun kesadaran diri, ketenangan berpikir, dan menciptakan praktik pendidikan yang lebih damai, sehat, serta humanis di lingkungan sekolah.
Selain mengikuti workshop, peserta juga mengikuti sesi temu dan kolaborasi bersama mahasiswa, sharing bersama calon mahasiswa Magister Bimbingan dan Konseling UAD, serta diskusi inspiratif mengenai pengembangan profesi guru BK dan konselor. Kegiatan ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta membangun jejaring profesional antara akademisi dan praktisi.
Peserta yang berasal dari anggota ABKIN PC Berau menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif yang terjalin memberikan kesempatan bagi peserta untuk membahas berbagai tantangan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah sekaligus memperoleh solusi berdasarkan pendekatan ilmiah dan praktik terbaik.
Melalui MBK UAD Goes to Berau, Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling UAD menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya MBK UAD dalam mempererat kerja sama dengan organisasi profesi, sekolah, dan masyarakat, sekaligus memperkenalkan program studi kepada calon mahasiswa di Kalimantan Timur.
Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi guru BK dan konselor dalam mengembangkan layanan yang lebih profesional, berorientasi pada kesejahteraan peserta didik, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang damai dan kondusif.
MBK UAD Goes to Balikpapan: Workshop Penguatan Kompetensi Konselor
/in Berita Utama /by bolirayaBalikpapan – Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar kegiatan Magister Bimbingan dan Konseling UAD Goes to Balikpapan pada 19 Mei 2026 di SMKN 2 Balikpapan. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi konselor sekaligus memperluas jejaring akademik di Kalimantan Timur.
Pada kegiatan tersebut, peserta mengikuti workshop bertajuk “Kedamaian di Sekolah, Kesehatan dalam Pikiran: BK Hebat untuk Sekolah yang Damai dan Siswa yang Sejahtera.” Workshop dipandu oleh Dr. Wahyu Nanda Eka Saputra, M.Pd., Kons. Materi yang disampaikan membahas peran penting guru Bimbingan dan Konseling dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, damai, dan mendukung kesejahteraan psikologis siswa.
Selain workshop, MBK UAD juga mengadakan temu praktisi dan sharing mahasiswa. Melalui kegiatan ini, peserta dapat berbagi pengalaman serta memperluas wawasan mengenai praktik Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tidak hanya itu, calon mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai program studi, kurikulum, serta peluang pengembangan karir setelah menempuh pendidikan di MBK UAD. Kegiatan ini berlangsung secara interaktif. Peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman. Oleh karena itu, suasana workshop menjadi lebih hidup dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta.
Melalui kegiatan ini, MBK UAD berharap dapat mempererat kerja sama dengan sekolah dan para praktisi. Selain itu, program ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan studi pada jenjang magister. Dengan demikian, semakin banyak konselor profesional yang mampu memberikan layanan berkualitas di lingkungan pendidikan.
Program MBK UAD Goes to Balikpapan menunjukkan komitmen Universitas Ahmad Dahlan dalam mendukung pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, MBK UAD akan terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi guru, konselor, mahasiswa, maupun calon mahasiswa di berbagai daerah.
Kaprodi MBK UAD Sampaikan Pesan Idul Adha untuk Menguatkan Peran Keluarga
/in Berita Utama /by bolirayaBantul – Momentum Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan Ketua Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) , Dr. Hardi Santosa, M.Pd., untuk mengajak masyarakat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan generasi yang bertakwa dan berkarakter. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Idul Adha di Lapangan Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/5/2026). Tema khutbah yang diangkat adalah “Semangat Idul Adha sebagai Inspirasi Menumbuhkan Keluarga yang Bertakwa.”
Teladan Keluarga Nabi Ibrahim AS
Dalam khutbahnya, Dr. Hardi Santosa mengangkat kisah keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai teladan. Kisah tersebut menunjukkan nilai ketaatan, pengorbanan, komunikasi, dan pendidikan iman dalam keluarga. Ia menjelaskan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Namun lebih dari itu, Idul Adha juga menjadi momen refleksi untuk membangun keluarga yang kokoh secara spiritual. “Keteladanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar menunjukkan bahwa keluarga kuat lahir dari ketundukan kepada Allah, komunikasi yang penuh kasih, serta pengorbanan untuk kebaikan yang lebih besar,” ujarnya.
Tantangan Keluarga di Era Modern
Selain itu, Hardi menyoroti tantangan keluarga modern yang semakin kompleks. Kesebukan dan perkembangan teknologi membuat interaksi keluarga semakin berkurang. Ia mengingatkan bahwa banyak keluarga tinggal di satu rumah, tetapi kurang memiliki kedekatan emosional. “Jangan sampai rumah hanya menjadi tempat berkumpul secara fisik. Suami sibuk bekerja, istri sibuk dengan aktivitas, dan anak sibuk dengan gawainya. Akibatnya, komunikasi hangat semakin berkurang,” ungkapnya.
Makna Kurban dan Keikhlasa
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kurban adalah simbol keikhlasan dan kemurnian tauhid. Oleh karena itu, ibadah tidak boleh terjebak pada pencitraan di media sosial. “Qurban bukan tentang siapa yang paling besar hewannya, tapi tentang keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah,” katanya. Dengan demikian, nilai utama Idul Adha adalah penguatan niat dan keikhlasan dalam beribadah.
Keteladanan Uwais Al Qarni
Dalam khutbahnya, Hardi juga menyinggung kisah Uwais Al Qarni sebagai contoh bakti kepada orang tua. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya hubungan anak dan orang tua. Ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi. Namun, juga dari mana ia berbakti kepada orang tua. “Banyak orang baru yang menyesal setelah orang tua tiada. Karena itu, masih ada waktu, mari kita muliakan mereka,” tuturnya.
Penguatan Ketahanan Keluarga
Sebagai ilmuwan Bimbingan dan Konseling, Hardi menilai bahwa ketahanan keluarga menjadi kebutuhan yang mendesak saat ini. Hal ini penting karena berbagai persoalan sosial dan psikologis terus meningkat. Ia menekankan bahwa keluarga bertakwa tidak hanya dibangun oleh materi. Tetapi juga karena kasih sayang, keteladanan, dan pembiasaan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Semangat Idul Adha untuk Kehidupan Lebih Bermakna
Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Adha sebagai titik balik perbaikan diri. “Semangat Idul Adha mengajarkan bahwa ketakwaan bukan sekedar ritual ibadah, tetapi juga menjaga keluarga, mendidik anak, menghormati orang tua, dan membangun kehidupan yang penuh keberkahan,” tutupnya.
MBK UAD Gelar Seminar Nasional dan Penandatanganan IA Menyambut Kedatangan 180 Mahasiswa S1 BK UNIPAR
/in Berita Utama /by bolirayaKaprodi MBK UAD Pesankan Kebermanfaatan Hidup Pada khutbah Idul Fitri 1447H
/in Berita Utama /by bolirayaYOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Momentum Idul Fitri 1447 Hijriah dimaknai sebagai titik transformasi spiritual yang membentuk bertujuan pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Hal ini disampaikan oleh Kaprodi Magister Bimbingan dan Konseling UAD , Dr. Hardi Santosa, M.Pd., yang juga berperan sebagai khotib dalam Shalat Idul Fitri di PRM Potorono Barat, Banguntapan Selatan, Jumat (20/3).
Dalam kapasitasnya sebagai bagian dari Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, beliau menegaskan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari dampak sosial yang nyata. Oleh karena itu, umat Islam diharapkan mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ramadhan sebagai Proses Tarbiyah
Dalam khutbah berjudul “Meraih Kemenangan dengan Menebar Manfaat” , beliau menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan proses tarbiyah atau pendidikan yang membentuk karakter manusia. Melalui proses ini, manusia menjadi lebih dekat kepada Allah sekaligus lebih peduli kepada sesamanya.
Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai “kepompong spiritual” yang melahirkan pribadi baru. Seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, perubahan tersebut diharapkan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial.
Kemuliaan dan Tantangan Sosial
Selain itu, Beliau mengingatkan bahwa ukuran kemakmuran dalam Islam tidak terletak pada kekayaan, jabatan, atau popularitas, melainkan pada kontribusi nyata kepada sesama. Namun demikian, fenomena budaya pamer atau flexing berpotensi menggeser nilai tersebut jika tidak disikapi secara bijak.
Oleh karena itu, beliau mengajak jamaah untuk membuka niat silaturahmi serta memperkuat keikhlasan dalam setiap amal. Dengan demikian, nilai-nilai kebaikan dapat tetap terjaga di tengah perubahan sosial.
Teladan dan Kehidupan Keluarga
Dalam khutbahnya, beliau juga menyampaikan kisah Uwais Al Qarni sebagai teladan dalam berbakti kepada orang tua. Kisah ini menjadi refleksi bagi jamaah agar meningkatkan pengabdiannya dalam keluarga, baik sebagai anak, suami, maupun istri.
Dengan demikian, nilai pengorbanan dan keikhlasan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sekaligus menjadi indikator keberhasilan spiritual setelah Ramadhan.
Momentum Perubahan dan Kepedulian Global
Di sisi lain, Beliau mengingatkan pentingnya kesadaran akan keterbatasan usia. Oleh karena itu, waktu yang dimiliki harus dimanfaatkan untuk beramal kebaikan. Ia menegaskan, Idul Fitri bukan sekedar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk melakukan perubahan secara nyata.
Lebih lanjut, ia juga menyentuh kondisi global, khususnya penderitaan umat Islam di Palestina. Beliau mengajak jamaah untuk mendoakan perdamaian dunia serta mendorong lahirnya kepemimpinan yang berkeadilan dan berorientasi pada kemanusiaan.
Pada akhir khutbah, beliau mengundangkan doa agar umat Islam diberikan pengampunan dan keberkahan hidup. Selain itu, beliau berharap umat dapat terus berbakti kepada orang tua dan sesama. Dengan demikian, Idul Fitri diharapkan menjadi awal kehidupan baru yang dipenuhi nilai keikhlasan, pengabdian, dan kebermanfaatan.
Kaprodi MBK UAD Tekankan Taqwa, Ikhtiar, dan Tawakal dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Nurul Balad
/in Berita Utama /by bolirayaYogyakarta, 22 Februari 2026 – Ketua Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Hardi Santosa, M.Pd., menyampaikan ceramah Ahad pagi di Masjid Nurul Balad pada Minggu (22/2/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak selepas salat Subuh hingga waktu syuruq ini diikuti jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga tokoh masyarakat. Suasana kajian berlangsung khidmat dan hangat sebagai bagian dari agenda rutin pembinaan umat masjid.
Ceramah mengangkat tema “Teologi Perjumpaan antara Ketaqwaan, Ikhtiar, dan Tawakal untuk Menyiapkan Generasi yang Kuat” . Dr. Hardi menegaskan bahwa membangun generasi unggul tidak cukup mengandalkan kecerdasan intelektual semata. Menurutnya, kekuatan spiritual menjadi landasan utama dalam membentuk pribadi yang tangguh dan berkarakter.
Ia menjelaskan bahwa generasi kuat lahir dari integrasi tiga pilar utama. Ketaqwaan menjadi orientasi nilai, ikhtiar diwujudkan melalui kerja nyata, dan tawakal menjadi sikap berserah diri kepada Allah SWT. Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membentuk keseimbangan hidup.
“Ketaqwaan melahirkan integritas, ikhtiar menumbuhkan daya juang, dan tawakal menjaga ketenangan jiwa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa generasi masa depan harus cerdas, beriman dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Lebih lanjut, Dr. Hardi mengajak orang tua dan pemuda untuk membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Ia menyampaikan pentingnya kolaborasi antara keluarga, masjid, dan lembaga pendidikan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan adaptif terhadap perubahan sosial.
Kajian Ahad pagi ditutup dengan doa bersama menjelang terbitnya matahari. Para jamaah mengaku mendapatkan pencerahan dan motivasi baru. Mereka terdorong untuk memperkuat peran keluarga dalam menyiapkan generasi yang beriman, berilmu, dan berdaya saing.
Kaprodi MBK UAD Terpilih Secara Aklamasi Menahkodai Asosiasi Prodi BK Swasta Indonesia
/in Berita Utama /by bolirayaSemarang (18/12/25). Bertempat di Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), 54 Kaprodi BK Swasta dari Aceh hingga papua mendeklarasikan diri dalam satu visi melalui asosiasi profesi. Ketua panitia, ibu Dr. Dini Rakhmawati, M.Pd., ketika di wawancarai menyatakan bahwa., forum ini di inisiasi oleh 4 PTS, yakni UAD, UPGRIS, UMK dan UM Metro. Kemudian berkembang dan kami mengundang secara terbuka semua penyelenggara prodi bimbingan dan konseling di PTS seluruh indonesia untuk bergabung. Sampai acara di helat, keseluruhan ada 54 PTS yang memiliki prodi BK bergabung. Kami berangkat dari komitmen dan kesadaran bersama bahwa perlu saling bergandengan tangan dan menguatkan untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu, maka dari itu forum seminar dan deklarasi asosiasi ini kami selenggarakan. Imbuhnya. Total peserta kegiatan mencapai 1.158 orang baik dosen maupun mahasiswa, terdiri dari sekitar 200 peserta luring dan 958 peserta daring.
Pada forum tersebut, Dr. Hardi Santosa, M.Pd., Kaprodi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Asosiasi untuk periode 2025 -2029. Kepercayaan tersebut mencerminkan pengakuan terhadap kapasitas kepemimpinan akademik serta kontribusi MBK UAD dalam pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling di tingkat nasional.
Sebagai ketua terpilih, Dr. Hardi Santosa, M.Pd menegaskan bahwa Asosiasi Prodi BK Swasta Indonesia memiliki posisi strategis dalam peningkatan mutu pendidikan khusunya bimbingan dan konseling sebagai garda terdepan dalam mengawal perkembangan psikologis siswa yang hari ini tantangannya luar biasa. Hardi menegaskan bahwa terhimpun nya 54 Prodi dalam satu komitmen dan wadah asosiasi profesi bukanlah angka statistik, melainkan kumpulan para pakar yang siap berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling.
Ia menjelaskan, sejumlah agenda telah disiapkan. Dalam waktu dekat komposisi kepengurusan pada setiap bidang akan di isi dengan menpertimbangkan keterwakilan daerah dan diferensiasi kultural. Forum telah menyepakati 9 bidang mulai dari pengembangan keilmuan, advokasi, hingga peningkatan mutu lulusan. Intinya pada program kerja nanti kami ingin memastikan bahwa kami swasta yang kecil-kecil ini, tatkala berkumpul dan bersatu maka akan memberikan dampak yang signifikan untuk kemajuan Indonesia, tegasya.
Pada pembentukan asosiasi itu, juga di gelar seminar nasional yang bertajuk kesehatan mental remaja: memberikan ruang untuk tumbuh dan sembuh dengan pembicara kunci Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd., yang juga dosen MBK UAD dan Dr. Arri Handayani, S.Psi.,M.Si., Dekan FKIP UPGRIS. Seminar itu menjadi salah satu bukti bahwa sebagai asosiai profesi gerakan keilmuan harus menjadi pilar utama dalam aktivitas temu kolegial untuk mengokohkan profesi.
Prestasi Gemilang Magister BK UAD di KEMDISTISAINTEK
/in Berita Utama /by bolirayaProgram Magister Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tahun 2025, program studi ini berhasil meraih pencapaian luar biasa melalui berbagai skema pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMDISTISAINTEK).
Empat dosen program studi MBK berhasil lolos seleksi ketat pendanaan penelitian dan pengabdian masyarakat dari Direktorat Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Pengembangan (DPPM) KEMDISTISAINTEK. Keberhasilan ini menunjukkan kualitas riset dan komitmen akademik yang tinggi dari para dosen dalam mengembangkan ilmu bimbingan dan konseling.
Tak hanya dosen, mahasiswa magister juga turut mengharumkan nama program studi dengan memperoleh hibah penelitian tesis dari Program Tesis Magister (PTM). Pencapaian ini membuktikan kualitas mahasiswa yang unggul dalam bidang penelitian konseling.
Prestasi ini menegaskan komitmen Magister BK UAD dalam menghasilkan research excellence dan community engagement yang berdampak nyata. Dengan dukungan dosen berkualitas dan ekosistem riset yang kondusif, program ini terus menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa yang ingin berkarir di bidang konseling profesional dengan standar akademik terdepan.
Magister Bimbingan dan Konseling UAD Pilihan Terdepan
/in Pengumuman /by bolirayaUniversitas Ahmad Dahlan kembali membuka kesempatan istimewa untuk Anda yang ingin melanjutkan perjalanan akademik di Prodi Magister Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2026/2027. Program ini hadir sebagai jawaban bagi para profesional yang menginginkan pengembangan kompetensi mendalam dalam layanan konseling berkualitas tinggi.
Mengapa memilih Magister BK UAD? Program ini menyajikan pendekatan pembelajaran yang balance antara teori mutakhir dan praktik lapangan yang relevan. Anda akan dibekali dengan keterampilan assessment psikologis, teknik intervensi terapeutik modern, serta metodologi riset yang aplikatif untuk menjawab tantangan konseling kontemporer.
Kami menyediakan jalur reguler dan program beasiswa bagi kandidat yang memenuhi kriteria. Dengan dukungan dosen berpengalaman dan fasilitas learning yang memadai, setiap mahasiswa akan mendapat pendampingan optimal untuk mencapai excellence akademik dan profesional.
Periode Pendaftaran: 21 April 2025 – 12 September 2025
Proses seleksi dirancang fair dan transparan melalui tahapan evaluasi dokumen, tes kompetensi, presentasi proposal, dan wawancara dengan tim akademik. Ini adalah momen tepat untuk bergabung dengan komunitas akademik yang supportive dan visioner.
Detail lengkap persyaratan dan prosedur pendaftaran dapat Anda temukan di website mbk.uad.ac.id. Tim kami siap membantu melalui berbagai kanal komunikasi untuk memastikan proses pendaftaran Anda berjalan lancar.
Segera daftarkan diri Anda dan raih masa depan cerah bersama MBK Universitas Ahmad Dahlan!
Perkuat Visi Keilmuan Prodi S1 & S2 BK Adakan Workshop Kurikulum
/in Berita Utama /by bolirayaProgram Studi Bimbingan dan Konseling (BK) jenjang S1 dan S2 menggelar workshop kurikulum guna memperkuat visi keilmuan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Dr. Hardi Santosa, M.Pd. membuka workshop dengan menegaskan pentingnya sinergi S1 dan S2 melalui kurikulum yang menguatkan profil lulusan. “Dekonstruksi kurikulum menjadi keharusan setiap 2 atau 4 tahun. Kedua program studi yang sudah unggul ini perlu harmonisasi kurikulum agar saling sinergi dan menguatkan visi keilmuan,” ujarnya.
Visi keilmuan yang dimaksud adalah “unggul dalam mengembangkan keilmuan bimbingan dan konseling komprehensif yang berorientasi Islamic Wellness.” Konsep yang memadukan pendekatan komprehensif dengan nilai-nilai Islami ini menjadi pembeda dari prodi lain. Workshop ini dipandu oleh Dr. Suwarjo, M.Si dari UNY sebagai pemateri.
Kegiatan ini diikuti seluruh dosen dan perwakilan mahasiswa. Workshop membahas harmonisasi struktur kurikulum untuk memperkuat tujuan visi keilmuan. Hasil kegiatan akan menjadi acuan penyempurnaan kurikulum yang saling melengkapi antara S1 dan S2 untuk menghasilkan lulusan BK yang kompeten dengan orientasi Islamic Wellness yang komprehensif.